Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Agustus 2016

Cerpen Gaje 3

BACK TO DESEMBER

Matahari baru saja beranjak dari tempatnya, terdengar kicauan khas burung di pohon. Terlihat dari kejauhan segerombol manusia yang sedang ber jogging  melewati pemukiman penduduk. Udara sejuk masuk melalui pori-pori kulitku, bunga-bunga liar yang tumbuh menggerombol ini indah dan sangat menyejukkan mata, dengan semangat kutarik nafas dalam-dalam udara yang begitu segar terasa nikmat mengalir disepanjang alur pernafasanku.
Ku nyalakan music dan kupasang aerophone ditelingaku. Begitu indah lantunan nasyid terdengar lembut dan menyejukkan hati.Kujangkau tubuhku untuk duduk di bangku taman. Hari ini minggu pagi yang menyenangkan, tak ada jadwal yang serius hari ini. Hanya mempercepat kholas ku dan memanjakan diri setelah sekian lamanya menanti hari minggu. Sungguh, pemandangan yang tak akan bisa kusaksikan dihari selain hari minggu.
Saat sedang asyik mengagumi indahnya ciptaan Allah, tak sengaja tanganku menyentuh sesuatu yang berada tidak jauh dari tempatku duduk. “Sebuah kamera!” seruku dalam hati. Suasana masih cukup pagi, siapa yang se pagi ini sudah meninggalkan kamera. Kuperhatikan di sekelilingku, sebagian besarnya hanya berolahraga. Lalu milik siapa kamera ini.
Ketika sedang mengira-ngira milik siapa. Tiba tiba dari arah belakang terdengar suara yang asing.
            “Permisi.. ukhti “ Ucapnya santun dan lembut
            “Iya ada apa? “Jawabku sambil menundukkan pandangan
            “Tadi saya lupa mengambil kamera yang saya letakkan disini” ucapnya sambil menunjuk kamera yang saat ini aku sentuh.
            Entah hanya dalam beberapa detik aku melupakan sesuatu yang baru saja ku temui. Jangan sangka karena aku tertegun melihatnya, aku hanya kaget. Cukup.
            “Mmm.. iya ini saya baru saja melihatnya” kuberikan kamera tersebut dan ia pun mengambilnya dengan hati-hati takut tersentuh oleh tanganku
            “Syukron” Ucapnya tulus dan teduh
            “Afwan” Ucapku sambil tersenyum sekilas melihat wajahnya. Entah kenapa ia tersentak
            “Kenapa? “ Tanyaku penasaran
            “A..Arumi? “tanyanya
            “Iya.. kok akhi tau”
            “Ukhti tidak kenal saya? Kita satu kampus kok satu kelas malah?” tanyanya dengan posisi yang masih berada dibelakangku
            “Maaf, saya suka lupa” jawabku tersenyum. Lalu ia membenarkan posisinya berada didepanku
            “Oh.. wajar kok kalau ukhti tidak tahu” ucapnya
            “Maaf “ Ucapku sekali lagi    
            “Kalau gitu, mari kita kenalan. Ukhti Arumi, perkenalkan nama saya Imam” ucapnya tersenyum tegas sambil merapatkan kedua tangannya didada isyarat untuk bersalaman
            “Oh.. Akhi Imam. Salam kenal “ ucapku sambil merapatkan kedua tangan pula
            Kami berbincang cukup lama. Imam banyak bertanya ini itu, begitu juga aku. Ia ternyata selain kuliah ia bekerja part time sebagai salah satu fotographer majalah
            “Ukhti, saya mau tanya ukhti suka sama bunga kan?” tanya Imam yang entah mengapa membuatku tersentak
            Aku mengangguk juga akhirnya
            “Kalau gitu Ukhti suka bunga apa?” tanya sambil tersenyum kecil. Tapi tak bisa kupungkiri. Senyumnya manis. Tidak, maksudnya lesung pipitnya yang manis.
            “Semua bunga saya suka akhi”
            “Yang paling ukhti suka saja”
            “Saya suka sama Bunga Desember”
            “Alasannya apa Ukhti?”
            “Karena menurut saya Bunga Desember itu indah dan seperti seorang Wanita akhi”
            “Maksudnya ?”
            “Bunga ini sebelum berbunga seolah tidak ada atau lenyap hanya ada umbinya saja, tapi setelah berbunga lingkungan akan tampak indah dan semerbak karena bunganya unik seperti kembang api, juga warnanya mencolok. Selain itu bunga ini hanya tumbuh sekali selama satu tahun dan itupun hanya dapat bertahan 7 hari saja”
            Imam mengangguk ragu “Lalu apa persamaannya dengan seorang wanita, ukhti?”
            “Seorang Wanita didunia ini mempunyai dua pilihan akhi, pertama menjadi wanita seutuhnya yang tidak terlalu menonjolkan dirinya pada dunia dan seorang wanita karir. Pada keduanya sebenarnya memiliki kesamaan”
            “Lalu?”
            “Perbedaannya hanya pada kepada siapa seharusnya ia menampakkan keindahan yang ada pada dirinya. Karena sejatinya keindahan tersebut tidaklah dapat bertahan lama”
            “Jadi maksud Ukhti seharusnya seorang perempuan itu seperti bunga desember yang sebelum berbunga indah ia bersembunyi di dalam tanah. Dan keindahan sejatinya hanya di tunjukkan kepada yang berhak. Sebab keindahan tersebut tidak bertahan lama?”
            Aku hanya mengangguk “Iya akhi. Akhi paham juga”
            “Jadi selama ini ukhti jarang bersosialisasi dengan teman laki - laki. Sampai tidak mengenal aku, tidak jauh dari alasan Bunga Desember “ tanyanya penasaran
            “Tidak juga akhi, aku hanya tidak percaya diri saat berbicara dengan lawan jenis apalagi menatap matanya”
            “Oh “ Ucapnya sambil menatap sekeliling, mungkin ia bingung sedari tadi kami ngobrol ia belum kupersilahkan duduk di sebelahku
            “Ukhi, 2 bulan lagi kita wisuda. Aku berniat melamar Ukhti..”
            Aku kaget bukan kepalang. Seperti disambar petir dipagi yang cerah. Kulihat wajahnya sebentar, tapi tidak ada guratan bercanda di wajahnya. Yang ada tatapan serius.
            “Kita baru saja kenal..”
            “Apa salahnya Ukhti, kita Ta’arufan”
***
            Sejak hari minggu itu, tidak ada lagi hari minggu yang menyenangkan berikutnya. Silih berganti dengan perasaan perasaan yang tidak tenang. Berganti dengan paper – paper yang bejibun.
            Sudut kota Jakarta sangat ramai dan jauh dari kata ketenangan. Tapi berbeda dengan tempatku berada saat ini. Di CafĂ© ini aku dapat merasakan ketenangan. Sambil menghirup Coffie Latte yang masih panas aku menikmati lantunan music yang indah dari Taylor Swift – Back to Desember. Desember ? Tiba – tiba aku teringat sesuatu mengenai Bulan Desember. Ah.. sepertinya bukan saat ini saja aku mengingatnya. Bahkan setiap saat.
            Hari ini sudah 5 tahun sejak minggu yang bahagia itu. Entah bahagia atau kecemasan. Hari itu hari pertama aku berbincang dengannya dan pada saat itu pula ia langsung mengatakan ingin berta’arufan denganku.
            Tapi kenapa sehari setelah itu pula ia menghilang. Yang kurasakan seperti dipermainkan. Aku mencoba mengabaikan hal itu, tapi yang kurasakan aku mencarinya. Ya Allah… hapuskanlah cinta dunia yang menyakitkan ini.
            Lantunan Back to Desember nya Taylor Swift baru saja usai. Tanpa sengaja aku meneguk Coffie Latte terakhirku. Sebelum seorang datang menghampiriku. Saat itu penglihatanku masih buram karena efek kacamataku yang berembun
            Semakin mendekat semakin aku mengenalnya. Bagaimana tidak, hanya ia laki-laki yang hadir dalam hidupku setelah Abi dan Kakak ku. Ia tampak elegan dengan kemeja dan jas biru donkernya. Ditambah lesung pipit yang muncul meski hanya tersenyum kecil. Namun, terlihat manis. Astagfirullah.. zina mata !!
            “Assalamu’alaikum” ucapnya lembut meneduhkan jiwa
            “Wa’alaikum salam” aku menjawabnya sambil menahan kebahagiaan sekaligus kesedihan. Kebahagiaan karena dia datang lagi dihidupku dan kesedihan jika mengetahui ia datang hanya untuk bertegur sapa.
            “Ini untuk Ukhti Arumi “ sambil memberikan pot bunga yang berisi Bunga Desember
            “Ini untuk apa Akhi?”
            “Ini untuk Ukhti, masa ukhti tidak mengerti”
            “Aku memang sulit dimengerti. Tapi menurut aku Akhi lah yang sulit di mengerti” Ucapku sambil tertunduk. Kecewa hadir meliputi diriku
            “Kok Ukhti jadi sensitive? Aku sudah susah payah loh menanamnya. Kan ukhti tahu sendiri bunga ini hanya tumbuh di bulan desember ini”
            “Akhi kenapa sih nyebelin banget, dulu akhi melamarku dan mengajak ku ta’arufan tapi kenapa akhi pergi gitu aja” ucapku to the point
            “Maaf, untuk waktu itu. Aku pergi menjauhimu agar keindahanmu tetap terjaga ukhti, seperti bunga Desember ini”
            Aku hanya diam mendengarkan ucapannya selanjutnya
            “Aku berusaha memantaskan diriku untukmu, ukhti. Kini aku sudah memiliki rizqi yang cukup untuk menafkahi kamu kelak agar kamu tetap menjadi wanita seutuhnya. Yang selalu menyembunyikan keindahannya, namun menampakkannya hanya pada yang berhak. Tapi ukhti menungguku kan? Atau sejak saat itu ukhti jatuh cinta sama aku?”
            “5 tahun bukan waktu yang sebentar Akhi..”
            “Jangan bilang Ukhti sudah menikah” wajahnya terlihat cemas. Lucu sekali rasanya meihat ia cemas seperti itu. Aku hanya menunduk, aku ingin mengetahui ekspresi selanjutnya
            “Ya Allah.. seharusnya waktu itu aku bersepakat untuk saling menjaga” kini Imam terlihat putus asa dan meletakkan pot berisi bunga desember itu dimeja
            “Baiklah, aku akan mencoba ikhlas. Tapi ukhti benar sudah menikah?”
            “Segera. Jika orang itu tidak menghilang lagi”
            “Aku kah orang itu?” tanyanya. Aku hanya mengangguk
            “Terima kasih Arumi telah menungguku dengan begitu sabar. Semoga bersamaku mekarmu tidak hanya sementara tapi selamanya dihatiku” ucapnya sambil tersenyum bahagia.

Desember yang bahagia dan Bunga desember yang bersahaja.

Cerpen Gaje 2

                        TETESAN PUTIH

Sudut kota Jakarta sangat ramai, untuk berjalan pun sangat sulit dan berdesakan. Apalagi  di pusat perbelanjaan seperti di Mall ini. Banyak orang yang berlalu lalang membawa belanjaan mereka. Meskipun udara cukup sejuk berada diruangan ber AC, namun tetap saja, jika berdesakan sangat tidak nyaman dan mengundang banyak kejahatan seperti copet.
Saat ini aku sedang di sibukkan oleh sesuatu yang menurutku sangat menyenangkan. Meskipun aku lelah, aku selalu di temani Feri, tanpa komentar dan keluhan apapun ia menuruti kemauan ku, dengan setelan kemeja biru toska dan jeans senada ia terlihat tampak keren dan menampakkan bentuk tubuh yang kotak-kotak hasil fittnesnya, tak lupa pula ia mengenakan kacamata nya yang membuat siapapun tergila gila.
Mataku berfocus lagi pada gaun biru yang di gantung indah di barisan paling depan. Aku meraihnya dan mengenakannya. Ketika aku memperlihatkannya kepada Feri, ia sempat melongo nyaris tidak mengedipkan mata. Ekspresinya berubah dari yang terlihat so cool kini jadi salah tingkah tak karuan. Lalu ia  hanya mengisyaratkan dengan menganggukkan kepala dan tersenyum. Dan akhirnya aku pun membelinya.
“Jika kamu peka, mungkin gaun itu akan kamu gunakan pada pernikahan kita, hehe..” gumamnya tampak samar namun aku bisa mendengarnya tapi herannya dari nada bicaranya terlihat serius.
Feri selalu jadi sahabat sejatiku. Sejak kecil kami selalu bersama, meskipun ia cukup popular di sekolah namun ia jarang bergabung dengan teman lainnya, teman laki-lakinya pun hanya beberapa ia lebih memilih bergabung bersama ku daripada temannya di ekskul Basket. Aku sangat bangga memiliki sahabat seperti dia, selain tampan dan baik ia juga sangat perhatian.
Oke sudah cukup, kembali lagi ke intinya. Kurasa semua sudah sangat lengkap. Mulai dari kado, kue, hingga gaun yang akan ku kenakan pada pesta ulang tahun pacarku yang ke 17 tahun. Dicky adalah pacarku, aku baru berpacaran sekitar satu tahunan. Meski baru satu tahun, kami tak jarang bertengkar dan putus nyambung. Kadang karena sikap Dicky yang cuek dan agak egois.
Terakhir kali kami bertengkar, karena dia. Waktu itu Dicky berjanji untuk ngejak nonton ke bioskop bareng, dan berjanji ketemuan di Taman dekat persimpangan. Namun, 2 jam menanti Dicky belum juga datang. Ketika aku menelpon nya ia malah berkata lupa. Aku sangat kesal dan akhirnya kami bertengkar.
Namun Dicky memang pandai merebut kembali hatiku, ia datang menghampiriku di taman sekolah ketika aku bersama Feri sambil membawa gitar dan memainkan lagu kesukaanku Payphone. Aku sangat terkejut, malu sekaligus senang. Dan akhirnya kami pun balikan. Memang kuno. Tapi romantis.
Berbeda dengan Feri yang begitu sangat perhatian. Namun sayang aku tidak mempunyai rasa apapun dengan Feri hanya sebuah persahabatan bisa.

Pesta di rumah Dicky pun berlangsung sangat seru dan ramai, ia begitu romantis memberiku kue potongan kedua. Aku berbincang dengannya, sedangkan yang lainya sibuk dengan makanan mereka.
Pesta yang di adakan oleh Dicky memang terliahat mahal dan berkelas. Dicky memang orang kaya. Tak heran ada pula undangan dari rekan bisnis papnya yang juga membawa anak-anak mereka kedalam pesta tersebut.
Tiba-tiba saja papanya Dicky dan seorang wanita datang menghampiri kami. Papanya memberi selamat kepada Dicky.
“Selamat ya nak, umur kamu sekarang sudah mulai dewasa “ puji papanya sambil mengelus rambut dan pundaknya
“Iya pa, makasih “ jawabnya dengan senyum semangat
Aku memperhatiakan wanita yang ada di sebelahnya. Sepertinya ia hendak melakukan sesuatu kepada Dicky. Benar saja dugaanku
“Selamat ya, sayang “ ucapnya sambil mencium pipi kiri kanan Dicky. Sambil tersenyum licik kearaku. Dicky hanya diam tak berdaya
Aku tak bisa menyembunyikan kekesalanku. Dan segera pergi. Aku berlari sekuat tenaga meninggalkan tempat itu, sambil menangis sesegukan. Dari arah belakang Feri ikut berlari kearahku dan menghentikanku.
“Kamu mau kemana? Pesta baru saja dimulai?” tanyanya sambil bernapas naik turun
Aku masih saja meneteskan air mata “ kamu nangis?. Memangnya ada apa” tanyanya sedikit khawatir. Tangannya mengusap lembut air mata ku yang membanjiri pipi ku.
Hanya Feri lah tempatku curhatku, jadi mau tidak mau kuceritkan semuanya, ia terlihat sangat gemas dan garang. Namun aku menahan emosinya. Dan akhirnya akupun memutuskan untuk pulang saja.
Dalam perjalanan pulang aku sangat lapar. Karena di pesta tadi aku belum sempat makan, akhirnya Feri mengajakku membeli jagung bakar. Kami duduk dan makan bersama di pinggiran jalan. Meki sedih, jika ada Feri di dekatku aku merasa sangat aman.
***
Aku dan Feri duduk dibawah pohon dekat taman sekolah, senang sekali rasanya memperhatikan anak kecil yang sedang main sepak bola. Mereka seolah olah tidak mempunyai beban dan bermain lepas tanpa penat.
Dicky pun datang menghampiriku dan mengajakku bicara untuk menjelaskan mengenai hal tadi malam. Semula aku menolaknya namun ia begitu memaksa. Feri terlihat sangat emosi, namun ia tahu batasan. Dan segera pergi meninggalkan kami berdua
Akhirnya Dicky menjelaskan semuanya. Ia berkata bahwa yang semalam tadi adalah keponakanya yang tinggal di Singapur,
“Tapi kenapa dia memelukmu?” tanyaku dengan wajah yang tidak memandangnya
“Kamu kan tahu sendiri, kebiasaan orang Singapur itu kayak gitu”
Entah mengapa aku ingin selalu memaafkan Dicky, meski ia tak jarang menyakiti perasaanku.
                                                              #
Malamnya, dirumahku aku mengerjakan tugas bersama Feri. Ia memang sering mengerjakan tugas bersama ku. Setelah tugas selesai ia tidak seperti biasanya langsung pulang. Ia menanyakan sesuatu, namun ia terlihat serius
“Din, tadi Dicky ngomong apa sama kamu?”
“Oh, ternyata yang semalam di pesta Dicky itu adalah keponakanya dari Singapur” ucapku semangat
“Trus kamu percaya? “ aku mengangguk pasti
Ia bangkit sambil menghentakkan meja “ Kamu gimana sih.. mau aja di bohongin orang kayak gitu !” seketika aku kaget
“Dia itu udah bohongin kamu !” nadanya meninggi.
“A apa? Aku tidak percaya ini Feri” batinku
Aku semakin takut, baru kali ini aku telah membuat Feri marah. Aku sebisa mungkin menjawab “Aku percaya sama dia!” . Feri terbelalak
“Kamu sendiri kan yang bilang kalau pacaran itu saling percaya, ya.. aku percaya sama Dicky” ucapku sambil memandang wajahnya
“Ya, tapi nggak kayak gini Dinda, dia bukan sekali dua kali menyakiti kamu, dia itu bajingan!! Kamu tau nggak” amarahnya meluap
“Ti tidak.. ini bukan Feri yang selama ini aku kenal, ia tak mudah marah, ia begitu perhatian dan ia begitu… “Batinku menahan sakit
“Diaaam..dia tidak seperti kamu pikirkan” aku tak bisa sembunyikan emosiku lagi, sudah saatnya aku berontak
 Dia terlihat tertunduk dan berusaha menahan semuanya. Ketika kutangkap wajahnya meneteskan air mata. Ia mulai berbicara lagi namun kali ini dengan nada yang rendah
“Din, sebenarnya aku begini itu karena aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu dan aku ingin kamu berada di sisiku” ucapnya tulus
“Sejak kapan kamu mulai menyukaiku…” jawabku lirih tak percaya
“Aku nggak tahu pasti, tapi kebersamaan kita yang membuat aku yakin”
“Tapi aku masih suka sama Dicky..”
“Dicky itu bajingan Din..” nadanya meninggi lagi
  Entah dorongan dari mana seketika aku menampar pipi Feri yang masih menyisakan air mata. Ia reflex dan memegang tangan ku. “ Din, aku cinta sama kamu” jelasnya
“Lepasin tanganku, aku tetap memilih Dicky, lebih baik kamu pergi meninggalkan ku sekarang.. pergi!!” emosi ku meluap-luap sudah tak terbendung lagi
“Tapi Din..” ucapnya memohon
“Cepat pergi…” teriakku sekali lagi
Ia tertunduk dan merapikan bukunya dengan wajah yang sangat tidak enak. Ia berubah sekatika semula kuangggap sebagai malaikat penolongku, kini menjelma menjadi srigala buas
“Oke, jika itu mau kamu, aku akan pergi. Dan jangan harap kamu dapat melihat wajahku lagi. Aku akan pergi untuk kamu” ancamnya
Ia telah pergi tapi..tapi kenapa aku seperti tidak rela, apa yang membuatku seperti ini, aku tadi yang menyuruhnya pergi, tapi kenapa perasaan ku memintanya untuk tetap tinggal.
Selepas kepergiannya aku hanya menangisi semua kejadian tadi, mengapa hubungan persahabatan yang begitu lama, bisa putus dalam hitungan menit hanya karena  masalah percintaan. Aku takut ucapannya benar-benar terjadi, aku masih ingin melihat wajahnya.
***
Dicky memang cowok bajingan, ia tertangkap basah sedang berpacaran di Taman ketika aku melewati taman tersebut. Ini sudah tidak bisa dimaafkan. Akhirnya aku putus dengan Dicky. Kini tak ada lagi yang menghiburku ketika sedih, aku sangat kehilangan sosok Feri.
Sejak peristiwa yang mencekam itu aku benar-benar tidak melihat wajahnya lagi. Ia benar-benar pergi. Ku beranikan diri untuk bertanya, ternyata ia pindah ke Surabaya. Entah dimana aku bisa menemukannya,
Yang kubisa hanya menangisi kepergiannya. Tak kusangka orang yang menghiasai hariku kini telah pergi entah kemana. Tak ada yang mampu mengisi kekosongan hatiku selain dia. Ini bagaikan palu yang memukulku kedalam. Sungguh sakit kehilangan orang yang sebenarnya aku sayangi.
Tahun berbilang tahun,,, laki-laki silih berganti menghiasi hariku, namun semua terasa hambar tanpa Feri disisiku. Aku jadi teringat perkataan Feri sewaktu di Mall ia berkata ““ Jika kamu peka, mungkin gaun itu akan kamu gunakan pada pernikahan kita.” aku menangis sejadi-jadinya mengingat itu
Dari email yang terkirim hari ini Feri akan datang menemuiku. Aku sangat bersemangat aku mengenakan gaun biru itu, lagi. Aku menyiapkan kata-kata untuk menerima Feri sebagai pacarku.
Tapi ternyata apa?! Ia datang membawa undangan pernikahannya dengan Intan. Ia terlihat begitu bahagia. Aku hanya tercengang mendengar perkataannya. Ia telah jauh beranjak melupakanku. Sementara aku tak beranjak sedikitpun.
Ketika ia pergi pun aku tak sanggup membendung air mataku dan menangis sejadi-jadinya, betapa beruntung wanita yang bersamanya. Andai waktu berulang….
            Rintik hujan menambah suasana hatiku tambah pilu. “Hujan… mengapa ini semua begitu menyesakkan….?”


THE ENDsss

Cerpen Gaje


I’l ny pass compare a vous

Matahari sudah sedari tadi beranjak keperaduannya, Bebby dan Bobby berjalan menyusuri tempat yang gelap dan sunyi. Ini adalah hal yang paling Bebby benci. Bagaimana tidak, Bebby sangat membenci Bobby sejak kecil, sebenarnya karena hal sepele dan itupun sudah terjadi lima tahun yang lalu namun entah kenapa Bebby tak bisa menghilangkan rasa benci itu. Dan sekarang mereka terjebak di tempat misterius ini. Berdua!
Mulanya mereka mengikuti acara tahunan yang diadakan sekolah, yaitu study tour. Namun ketika menjelang sore tadi, Bebby tidak sengaja melihat kelinci lucu yang sedang berlari kearah hutan, karena tertarik Bebby mengikutinya namun kelinci tersebut terus berlari. Bebby yang waktu itu kaki kirinya sedang luka tak mampu berjalan lebih cepat dari biasanya hingga ia terus berusaha mengejar kelinci itu.
Tanpa sengaja ternyata Bobby sedang memperhatikannya hingga menguntitnya dari belakang. Hingga pada akhirnya Bebby tak mampu mengambil kelinci tersebut dan malah tersesat jauh dari rombongan. Beruntung ada Bobby yang datang menghampirinya, meskipun mereka sama-sama tidak tahu jalan pulang, setidaknya Bebby cukup aman.
“huuu… huuu” nafas Bebby mulai terengah engah
Bobby menoleh dengan tatapan cemas, bagaimana tidak? Mereka sudah berjalan kurang lebih 4 kilometer namun hasilnya tetap nihil.
“Ini semua gara-gara kamu !” ucap Bobby memecah keheningan
“A.. aku? Hello! Siapa suruh ngikutin aku? “ Dengusnya kesal. Suaranya masih saja cerewet meski dalam keadaan seperti ini
Wajah tampan dan gagahnya berubah menjadi datar. Bobby terlihat salah tingkah. Sebetulnya dalam lubuk hati terdalam Bobby ia menyimpan rasa istimewa buat Bebby, namun entah mengapa Bebby seperti sudah menolaknya terlebih dahulu dengan membencinya tanpa ia mengatakan apapun
“S.. Siapa yang ngikutin kamu? I..itu tadi aku sedang mencari.. mencari kayu bakar.. ya, kayu bakar “ sambil menggosokkan tengkuknya untuk menghilangkan salah tingkahnya
Bebby menatapnya tajam dan menaikkan alisnya membuat Bobby semakin salah tingkah “Yakin? Kayu bakarnya mana?” tanya Bebby menyelidik wajah cantiknya tidak surut sedikitpun meski sudah terlihat lelah dan tidak fresh
Bobby tak menjawab. Hening. Melihat hal itu Bebby hanya mengejeknya dengan mencibir. Tak tahu dari mana asalnya rasa benci itu, tumbuh hingga mereka dewasa.
Sinar yang sedari tadi mereka harapkan akhirnya tempak juga. Ya, sinar rembulan meski tidak terlalu terang setidaknya mereka bisa saling menatap wajah dengan jelas. Tidak seperti sebelumnya yang terlihat hanyalah pakaian mereka.
“hfftt.. aku lelah, aku mau duduk dulu. Kalau kamu mau lanjut silahkan aja. Luka kaki ku kalau dipaksakan akan parah nantinya” kata Bebby rasa juteknya sepertinya memang sudah mendarah daging bila di hadapan Bobby. Ia kemudian duduk di batang pohon yang sudah tumbang.
Bobby ikut duduk sebentar disebelah Bebby “Oke kalau gitu aku mau lanjut jalan ” ucap Bobby sambil beranjak dan menyeringai
“ Silahkan…” ucap Bebby menyolot
“Kamu tidak takut?” Godanya
“Kalau mau pergi, pergi sana jangan nakut-nakutin ” ucapnya sebal sambil manyun
“Oke, untuk informasi aja, ini adalah malam Jum’at Kliwon lohh.. dimana kata orang..”
“Stop… “ potong Bebby segera beranjak ketakutan. Bobby tidak bisa menahan tawanya ia langsung tertawa terbahak bahak
 “Dasar Hidung Belang..” ucap Bebby sambil menyenggol lengan Bobby
Bobby paling tidak suka jika sudah disebut hidung belang oleh Bebby, bagaiman tidak, hidung belang adalah sebutan untuk laki-laki yang suka mempermainkan cewek. Padahal kenyataannya Bobby tak pernah berpacaran.
Tanpa ekspresi Bobby melangkah mendekat Bebby dan dan menarik Bebby untuk duduk lagi bersama. Ini adalah pertama kalinya Bebby sedekat ini duduk dengan seseorang dan anehnya dadanya berdegup kencang.
“Kamu boleh panggil aku apa aja sesuka mu…” ucapnya sambil terus menatap Bebby
Bebby yang merasa tidak nyaman dengan posisi ini segera mendorong Bobby.
“ Ia, contohnya bebek, katak, kecoa..” Bebby mencibir. Bisa-bisanya ia seperti itu meski dalam keadaan seperti ini.
“Hmmfhh..” jari Bobby menutup mulut Bebby. Seketika Bebby terdiam.
“Kamu tau nggak, aku paling tidak suka di panggil Hidung belang..” Bebby menaikkan alis. Namun kini mulutnya tidak menjawab
“Karena yang ada dihati ku cuma kamu Beb.. tidak ada wanita manapun, bagaiman bisa kau memanggilku hidung belang?” ucap Bobby. Membuat Bebby menatap nanar wajah tampan itu
Speechless
Mereka terdiam cukup lama, melihat kaki Bebby yang sudah pegal membuat Bobby ingin memijitnya.
“Kamu tidak perlu mengatakan apa-apa mengenai itu tadi..” ucapnya sambil memijit kaki Bebby “Anggap saja kamu tidak mendengarnya”lanjutnya
Bebby menolak pijitannya, namun lengan kokohnya menahannya untuk diam dan akhirnya diam menuruti
“Kamu mau tau nggak kenapa aku sering memanggil kamu hidung belang?” tiba-tiba dihati Bebby sudah hilang rasa benci dan rasa selalu ingin marah bila melihat Bobby.
“Kenapa?”
“Waktu itu ketika umur kita sekitar 12 tahun dan saat itu pula aku sangat membencimu. Bobby yang dulu tampan, berani, baik yang membuat siapa saja yang melihatnya suka. Saat itu aku sangat menyukaimu, sampai-sampai aku yang ingin menembak kamu duluan. Namun aku harus mengalahkan banyak cewek. Melihat hal itu aku jadi pesimis. Ketika itu aku belum mengerti apa-apa, setahuku, orang yang sering bermain dengan banyak cewek adalah laki-laki hidung belang, maka dari itu aku memanggilmu hidung belang”
Bobby terenyuh dan berhenti memijit kakinya dan berbalik menatap Bebby lagi namun kini sorot matanya penuh dengan keteduhan dan membuat Bebby seakan terhipnotis.
“Ha ha ha.. “Tawanya membuyarkan lamunan Bebby. Tak disangka tatapan yang membahana itu berubah seketika
“Kenapa ketawa “ Bebby melotot sambil mencubit pinggang Bebby
“Aw.. aw.. maaf “ tawanya terhenti
“Bebby, justru dari dulu aku ingin sekali menyatakan cinta padamu. Namun kamu selalu disibukkan dengan rasa benci mu itu kepadaku. Bagaimana mungkin aku memintamu menjadi pacarku sementara dirimu diliputi rasa benci. Namun sekarang aku sudah tahu alasannya, kenapa enggak dari dulu aja ku nanya kenapa kamu sering panggil aku hidung belang” ucapnya sambil sesekali melirik kearah Bebby yang menunduk malu
“Justru rasa suka itu selalu aku tutupi dengan rasa benci agar aku benar-benar tidak memiliki rasa padamu. Namun semakin lama ini tidak akan berhasil dan malah semakin bertambah” ucapnya tanpa memandang Bobby
Bobby memandang mesra Bebby yang masih tertunduk lelah sekaligus malu “Kamu mau nggak jadi PACARKU” ucapnya dengan nada penekanan pada kata pacarku
Bebby hanya mengangguk dan menunduk lagi-lagi karena malu. Betapa senag dan bahagianya hati Bobby kala itu wajah tampannya tersenyum tulus pada Bebby
Deru angin menambah udara menjadi dingin, beberapa derap langkah terdengar dari kejauhan menambah suasana menjadi mencekam suara itu semakin lama semakin mendekat dibareng dengan sebuah cahya lampu petromak yang semakin lama menampakkan bahwa itu adalah beberapa teman dan guru mereka berdua
Tanpa sadar mereka lupa bahwa mereka sedang tersesat di jalan. Senyum bahagia dari keduanya kini terkembang. Beberapa orang sangat mengkhawatirkan mereka dan beruntunglah mereka telah bertemu rombongannya.

Bobby dan Bebby ikut bergabung. Tak disangka terjebak di tempat seperti ini membuat mereka mengetahui apa isi hati dari keduanya. Sungguh tak disangka